WAHYU PERTAMA DAN TERAKHIR
Dosen pengampu: Prof Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten dosen: Ati' Nursyafa’ah, M.Kom.I
Oleh:
Muhammad Taqiyyudin Al Aqiil (B01219038)
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Pertama, marilah kita panjatkan puji
syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Salawat
dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
keluarganya, dan para sahabat beliau.
Tujuan pembuatan malah ini adalah sebagai
salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti
diketahui Bersama, al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak pernah habis
dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan dibahas
tentang wahyu yang turun pertama dan terakhir beserta tempatnya.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, yang telah
memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses pembuatan
makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun
senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
Surabaya, 29 Agustus 2019
Muhammad Taqiyyudin Al Aqiil
DAFTAR ISI
WAHYU PERTAMA DAN
TERAKHIR
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PEMBAHASAN
A. Wahyu pertama yang
diturunkan
1. Pendapat yang paling
sahih ialah al-Alaq ayat 1-5
2. Pendapat kedua yakni
al-Muddatstsir ayat 1-5
3. Pendapat ketiga yakni
al-Fatihah
4. Pendapat ke empat yakni
Bismillahhirrohmanirrohim
B. Wahyu terakhir yang
diturunkan.
1. Pendapat yang pertama
al-Baqarah ayat 278
2. Pendapat yang kedua
al-Baqarah ayat 281
3. Pendapat yang ketiga
al-Baqarah ayat 282
4. Pendapat yang keempat
an-Nisa ayat 176
5. Pendapat yang kelima
at-Taubah ayat 128
6. Pendapat yang keenam
al-Maidah ayat 3
BAB II KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PEMBAHASAN
Ungkapan bahwa Rasulullah ﷺ. Menerima al-Qur’an yang diturunkan
kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam
menggambarkan segala yang turun dari tempat kedudukan al-Qur’an dan agungnya
ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup umat manusia.
Dalam hal yang pertama kali
diturunkan dan yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang
akan kami ringkaskan dan pertimbangkan di dalam pembahasan berikut ini
A. Wahyu pertama yang diturunkan
1. Pendapat yang paling sahih ialah al-Alaq ayat 1-5
Permulaan ayat
al-Qur’an yang diturunkan ialah beberapa ayat pada permulaan surat al-Alaq (Iqra’
bismi Rabbika).[2]
Pada tanggal 8 bulan Rabi’ul awal sewaktu sedang berkhalwat di dalam gua Hira’.
ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ
ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ
وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ
بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا
لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.” (QS.
Al-Alaq[96] : 01 - 05).
Pendapat ini
didasarkan pada suatu hadist yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadist dan
yang lain, dari Aisyah Ummul Mukmin, yang mengatakan.
“Sesungguhnya apa
yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah ﷺ
adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Dia melihat dalam mimpi itu datangnya
bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua
Hira untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia
pulang kepada Khadija ra, maka Khadijah pun membekalinya seperti bekal
terdahulu. Di gua Hira dia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat
datang kepadanya dan mengatakan: ‘Bacalah!’ Rasulullah menceritakan, maka aku
pun menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Malaikat tersebut kemudian memelukku
sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi:
‘Bacalah!’ Maka aku pun menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Lalu dia
merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi
dan dia berkata: ‘Bacalah!’ Aku menjawab: ‘Aku tidak pandai membaca.’ Maka dia
merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian dia berkata: ‘Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…’ sampai dengan ‘.. apayang
tidak diketahuinya.” (Hadist)
Hadist diatas
menunjukkan bahwa ayat yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq ayat 1-5.
Pada saat yang bersamaan turunnya ayat tersebut menetapkan bahwa Muhammad
sebagai Nabi. Menjadi seorang nabi berarti jika mendapat wahyu yang telah
berikan Allah SWT untuk diamalkan bagi
diri sendiri dan tidak memiliki kewajiban memberikan.
2. Pendapat kedua yakni al-Muddatstsir ayat 1-5
Dikatakan pula,
bahwa yang pertama kali turun adalah al-Muddatstsir. Pada hari Jum’at tanggal
17 Ramadhan. Yang dimana pada malam tersebut sangat dimuliyakan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ
فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ
فَطَهِّرۡ ٤ وَٱلرُّجۡزَ
فَٱهۡجُرۡ ٥
“Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah,
lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu agungkanlah!. Dan pakaianmu bersihkanlah.
Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”(QS. Al-Muddatstsir[74]: 1-5)
Ini didasarkan
hadist yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadist yakni Imam Bukhari dan
Muslim.
“Saya bertanya
kepada Jabir bin Abdillah ra: Apakah ayat yang pertama kali diturunkan? Ia
menjawab: Surat yang pertama kali diturunkan adalah “Yaa ayyuhal
Muddatstsir.” Saya berkata: Bukankah ayat yang pertama kali diturunkan
adalah surat al-Alaq “iqra’ bismirabbik”? Lalu Jabir ra menjawab: Kalau
kamu tidak percaya, saya akan memberitahumu sebuah hadits dimana beliau
bersabda: “Saya dulu sering tinggal di dalam gua Hira’. Setelah saya telah
tidak lagi tinggal disana, saya pun menuruni lembah yang ada di dekat sana.
Saya melihat ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang. Setelah itu saya
melihat ke langit, rupanya di sana ada Jibril. Saya pun langsung ketakutan dan
gemetaran. Lalu saya mendatangi Khadijah ra, Saya menyuruhnya untuk menyelimuti
saya. Maka Allah SWT menurunkan surat ini.
Mengenai hadist
Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang
diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah al-Muddatstsir lah yang
turun secara penuh sebelum surah al-Alaq selesai diturunkan, karena yang turun
pertama sekali dari surah al-Alaq itu hanyalah permulaan saja. Hal yang
demikian ini juga diperkuat oleh hadist Abu Salamah dari Jabir yang terdapat
dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata : “Aku telah mendengar
Rasulullah ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam
pembicaraan itu: Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku
angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira
itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan
: Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: Ya
ayyuhal Muddatstsir.”
Hadist ini
menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian dari kisah gua Hira, atau
Al-Muddatstsir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah terhentinya
wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang pertama kali turun secara mutlak ialah
iqra’ dan surah yang pertama diturunkan
secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Ya
ayyuhal Muddatstsir dan untuk kenabiannya adalah iqra’.
3. Pendapat ketiga yakni al-Fatihah
Pendapat ini
mengatakan bahwa yang pertama kali turun kepada Rasulullah ﷺ adalah surat al-Fatihah. Az-Zamakhsyari berkata dalam Al-Kasysyaf:
Abdullah bin Abbas ra dan Mujahid, keduanya telah menegaskan bahwa surat yang
pertama kali turun dalam al-Qur’an adalah surat al-Alaq, tetapi kebanyakan
tafsir menyatakan bahwa yang pertama kali turun dalam al-Qur’an adalah surat
al-Fatihah.
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ
لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ
ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ
نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ
ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا
ٱلضَّآلِّينَ ٧
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami
sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami
jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat
kepada mereka bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat.” (QS. Al- Fatihah[1]: 1-7).
Dasar
dalil yang dipergunakan bahwa surat yang pertama kali turun al-Fatihah adalah
hadits riwayat al-Baihaqi dalam ad-Dalail dan juga al-Wahidy dari Abu
Maisarah Amru bin Syurahbil bahwa Rasulullah ﷺ
berkata kepada Khadijah ra: “Jika saya sedang sendirian, saya sering mendengar
suara yang memanggil-manggil, sampai saya merasa sangat takut, jangan-jangan
ini adalah suatu perintah”. Khadijah ra menjawab: Tidak mungkin, Allah SWT
tidak akan berlaku seperti itu kepada engkau,
karena engkau adalah orang yang selalu menyampaikan amanah, menyambung
tali silahturahmi, dan selalu berkata
jujur. Ketika Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah ﷺ
Khadijah ra pun menceritakan hal itu kepadanya, Ia berkata kepada Abu Bakar ra:
Pergilah Bersama Muhammad ﷺ menuju rumah Waraqah.
Kemudian keduanya pergi ke rumah Waraqah dan menceritakan hal-hal yang terjadi
pada diri Nabi Muhammad ﷺ. Nabi ﷺ berkata kepada Waraqah: “ Setiap saya
menyendiri saya selalu mendengar suara yang memanggil-manggil saya, ia
memanggilku ‘wahai Muhammad! Wahai Muhammad!, kemudian saya langsung lari
terbirit-birit dan bersembunyi setiap mendengar suara tadi”. Waraqah berkata:
Jika kau mendenga suara itu lagi maka tetaplah di tempatmu dan jangan lari
terbirit-birit, dan turunlah surat al-Fatihah.[10]
4. Pendapat ke empat yakni Bismillahhirrohmanirrohim
Mengapa Bissmillahirrahmanirrahim?
Karena basmalah itu turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil kedua
pendapat di atas hadist-hadist mursal. Hadist mursal adalah perkataan yang
diucapkan oleh tabi’in (mereka yang tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ) secara langsung atau terus kepada Rasulullah
ﷺ dengan tidak melalui perantaraan sahabat.
Pendapat pertama yang didukung oleh hadist Aisyah itulah pendapat yang kuat dan
masyhur.
Az-Zarkasyi
menyebutkan di dalam kitabnya al-Burhan, hadist Aisyah yang menegaskan bahwa
yang pertama kali turun adalah iqra’ bismi rabbikal lazi khalaq dan
hadist jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah Ya ayyuhal
muddatstsir qum fa anzir. Kemudian dia berkata : “Sebagian ulama menyatukan
keduanya yaitu, bahwa Jabir mendengar Rasulullah ﷺ
menyebutkan kisah permulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya,
sedang bagian pertamanya dia tidak
mendengar. Maka dia (Jabir). Menyangka bahwa surah yang didengarnya itu adalah
yang pertama kali diturunkan, padahal bukan mememang surah Al-Muddatstsir itu
adalah surah pertama yang diturunkan setelah surah al-Alaq dan setelah
terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam Sahih Bukhari dan Muslim
dari Jabir, bahwa Rasulullah SAW dikala itu sedang membicarakan masalah
terhentinya wahyu. Didalam hadist itu dia berkata: “ketika aku berjalan, aku
mendengar suara dari langit. Lalu ku angkat kepalaku, tiba-tiba yang datang
kepadaku malaikat yang ku lihat ketika aku di gua hirak duduk diatas kursi yang
terletak diantara langit dan bumi, sehingga akupun merasa ketakutan sekali.
Kemudian aku pulang dan berkata: “selimuti aku, selimuti aku“. Lalu Allah
menurunkan: “wahai orang yang berselimut, bangkitlah, lalu berilah peringatan“
Dalam hadist ini
ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua Hira’ sebelum
saat itu. Di dalam hadist Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya iqra’
itulah wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah itu wahyu terhenti. Sedang
dalam hadist Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah
turunnya Ya ayyuhal muddatstsir.
Dengan demikian
dapatlah diketahui Iqra’ adalah yang pertama sekali diturunkan secara mutlak,
dan bahwa al-Muddatstsir diturunkan sesudah Iqra’.
Demikian juga Ibnu
Hibban mengatakan dalam Sahih-nya:
“Di antara kedua
hadist itu tidak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’
bismi rabbikal lazi khalaq di gua Hira’. Ketika kembali kepada Khadijah dan
Khadijah menyiramkan air dingin kepadanya, Allah menurunkan kepadanya di rumah
Khadijah ini : Ya ayyuhal muddatstsir. Maka jelaslah bahwa ketika turun
kepada beliau iqra’, ia pulang lalu berselimut; kemudian Allah menurunkan Ya
ayyuhal muddatstsir.”
Juga ada dikatakan
bahwa yang pertama kali turun ialah surah Al-Fatihah. Hadist yang menunkjukkan
hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu Maisarah; dia berkata: “Adalah
Rasulullah SAW apabila mendengar suara, beliau segera berlari. Beliau pun
menyebutkan turunnya malaikat kepadanya dan perkatannya, “Katakanlah: Alhamdulillahi
rabbil ‘alamin….. dan seterusnya.”
Al-Qadhi Abu Bakar
dalam kitabnya al-Intishar mengatakan, bahwa hadist ini munqathi’. Maka
tetap kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun ialah iqra’
bismi rabbik, dan sesudah itu wahyu ini terputus selama tiga tahun.
Al-Qur’an itu turun pada nabi berangsur-angsur. Sudah itu turun pula ayat yang
berbunyi Ya ayyuhal muddatstsir. dan sesudah itu pendapat
yang menyatakan bahwa yang pertama kali turun itu adalah Ya ayyuhal
muddatstsir. Cara menyatukan pendapat-pendapat diatas bahwa ayat yang
pertama kali turun itu adalah Iqra’ bismi rabbik, dan ayat mengenai
tabligh (untuk menyampaikan) yang pertama kali turun ialah Ya ayyuhal
muddatstsir, sedang surah yang pertama kali turun ialah Al- fatihah. Hal
yang demikian ini seperti apa yang termuat di dalam hadist:
“Yang pertama kali
dihisab dari seorang hamba ialah Salat. Dan “Yang pertama kali diputuskan
mengenai seorang Hamba adalah urusan darah”
Penyatuan kedua
hadist itu ialah : “Yang pertama kali seorang hamba diadili dalam hal kezaliman
yang terjadi sesama hamba adalah urusan darah; sedang yang pertama kali dihisab
dari seorang hamba dalam hal kewajiban-kewajiban badaniah adalah shalat.”
Juga dikatakan
bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah Ya ayyuhal
muddatstsir, dan yang pertamankali turun mengenai kenabian adalah iqra’
bismi rabbik. Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah iqra’;bismi
rabbik itu menunjukkan kenabian Muhammad SAW sebab kenabian tiu adalah
wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat denga penugasan khusus. Sedang firman Allah firman
Allah Ya ayyuhal muddatstsir itu menunjukkan kerasulannya, sebah
kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang denga perantaraan malaikat dengan penugasan umum.
Dengan demikian
dapatlah diketahui bahwa “iqra” adalah wahyu yang pertama sekali
diturunkan secara mutlah, dan bahwa “muddatstsir” diturunkan sesudah
iqra’. Hal ini sesuai dengan anjuran Al-Quran sendiri. Ayat yang mula mula
turun ialah yang berhubungan dengan Ilmu pengetahuan. Adapun ilmu-ilmu yang
berkembang pada masa keemas an islam paling erat hubungannya ayat pertana turun
dengan Pendidikan surat Al Alaq ayat 1, 4 dan 5 adalah : Perintah untuk
membaca. Menulis dan mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya, karena
membaca dan menulis merupakan Sumber ilmu pengetahuan.
B. Wahyu terakhir yang diturunkan.
Tidak
seperti ayat yang pertama turun, ayat yang terakhir turun banyak pendapat yang
berbeda-beda. Rasulullah ﷺ bias bercerita
tentang awal permulaan wahyu yang turun paling terakhir, karena turunnya wahyu
merupakan kehendak Alllah SWT yang tidak diketahui Rasulullah ﷺ. Untuk itu, wahyu yang turun paling akhir hanya dari pengakuan
beberapa sahabat yang berbeda pengalaman saat Bersama Rasulullah ﷺ.
1. Pendapat yang pertama al-Baqarah ayat 278
Dikatakan bahwa
ayat terakhir yang diturunkan itu adalah ayat mengenai riba. Ini didasarkan
pada hadist yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Ibn Abbas, yang mengatakan:
“Ayat terakhir
yang diturunkan adalah ayat mengenai riba.” Yang dimaksud ialah firman Allah :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ
ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم
مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Baqarah[2]:278)
2. Pendapat yang kedua al-Baqarah ayat 281
وَٱتَّقُواْ
يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا
كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ
٢٨١
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang
pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing
diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang
mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”(QS.
al-Baqarah[2]:281)
Ayat ini mengingatkan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah
SWT. “Pesan ini lebih layak sebagai pamungkas,” tulis Abu Syahbah (1992:109).
Selain itu, sebagaimana pendapat pertama di atas, ayat ini juga didukung oleh
banyak ulama. Ayat ini turun pada hari Sabtu dan jangka waktu antara turunnya
ayat ini turun pada hari Sabtu dan jangka waktu antara turunnya ayat ini dan
wafatnya Rasulullah ﷺ adalah 9 hari (Ibnu
Katsir, 1997: I: 367). Sebelum wafat, Nabi SAW mengalami sakit keras.
Karenanya, ayat ini turun di Madinah saat Rasulullah ﷺ
terbaring sakit.
Selain dasar-dasar yang kuat, jarak dengan wafatnya Rasullah ﷺ tidak bisa diabaikan dalam menentukan ayat
yang turun paling akhir. Turunnya wahyu mengiringi hidup Rasulullah ﷺ. Artinya, selama Rasulullah ﷺ belum wafat, masih ada kemungkinan wahyu berakhir,
sebagaimana Rasulullah ﷺ tidak mengetahui
kapan wafatnya. Tidak jarang Rasulullah ﷺ
membacakan wahyu kepada para sahabat yang berbeda, sehingga sahabat yang satu
lebih mengetahui seluk beluk suatu ayat tertentu disbanding sahabat yang lain.
Sahabat yang mengetahui persis saat Rasulullah ﷺ
menerima suatu ayat memiliki pengetahuan yang lebih kuat dibanding sahabat lain
yang tidak mengetahui secara langsung proses turunnya suatu ayat kepada nabi.
Demikian ini dapat diketahui melalui penjelasan sebab-sebab turunnya suatu
ayat. Dengan demikian, masing-masing sahabat bias mengklaim ayat yang
diketahuinya sebagai ayat yang turun paling akhir.
3. Pendapat yang ketiga al-Baqarah ayat 282
Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun itu ayat mengenai
utang. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab “Telah
sampai kepadanya bahwa ayat al-Qur’an yang paling muda di ‘Arsy ialah ayat
mengenai utang.”
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيۡنٍ
إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى فَٱكۡتُبُوهُۚ وَلۡيَكۡتُب بَّيۡنَكُمۡ كَاتِبُۢ
بِٱلۡعَدۡلِۚ وَلَا يَأۡبَ كَاتِبٌ أَن يَكۡتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ ٱللَّهُۚ
فَلۡيَكۡتُبۡ وَلۡيُمۡلِلِ ٱلَّذِي عَلَيۡهِ ٱلۡحَقُّ وَلۡيَتَّقِ ٱللَّهَ
رَبَّهُۥ وَلَا يَبۡخَسۡ مِنۡهُ شَيۡٔٗاۚ فَإِن كَانَ ٱلَّذِي
عَلَيۡهِ ٱلۡحَقُّ سَفِيهًا أَوۡ ضَعِيفًا أَوۡ لَا يَسۡتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ
فَلۡيُمۡلِلۡ وَلِيُّهُۥ بِٱلۡعَدۡلِۚ وَٱسۡتَشۡهِدُواْ شَهِيدَيۡنِ مِن
رِّجَالِكُمۡۖ فَإِن لَّمۡ يَكُونَا رَجُلَيۡنِ فَرَجُلٞ وَٱمۡرَأَتَانِ مِمَّن
تَرۡضَوۡنَ مِنَ ٱلشُّهَدَآءِ أَن تَضِلَّ إِحۡدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ
إِحۡدَىٰهُمَا ٱلۡأُخۡرَىٰۚ وَلَا يَأۡبَ ٱلشُّهَدَآءُ إِذَا مَا دُعُواْۚ وَلَا
تَسَۡٔمُوٓاْ أَن تَكۡتُبُوهُ صَغِيرًا أَوۡ
كَبِيرًا إِلَىٰٓ أَجَلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِ وَأَقۡوَمُ
لِلشَّهَٰدَةِ وَأَدۡنَىٰٓ أَلَّا تَرۡتَابُوٓاْ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً
حَاضِرَةٗ تُدِيرُونَهَا بَيۡنَكُمۡ فَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَلَّا
تَكۡتُبُوهَاۗ وَأَشۡهِدُوٓاْ إِذَا تَبَايَعۡتُمۡۚ وَلَا يُضَآرَّ كَاتِبٞ وَلَا
شَهِيدٞۚ وَإِن تَفۡعَلُواْ فَإِنَّهُۥ فُسُوقُۢ بِكُمۡۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ
وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٢٨٢
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang
penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan
menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan
hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi
sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya
atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka
hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang
lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi
yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.
Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil;
dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai
batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih
menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis
dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada
Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS.
Al-Baqarah[2]: 282)
Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat
tersebut di atas diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya di dalam mushaf.
Ayat mengenai riba, ayat Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan
kepada Allah…. Kemudian ayat mengenai utang, karena ayat- ayat itu masih
satu kisah.
4. Pendapat yang keempat an-Nisa ayat 176
Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat
mengenai kalalah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin Azib;
dia berkata: “Ayat yang terakhir kali turun adalah:
يَسۡتَفۡتُونَكَ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيكُمۡ فِي ٱلۡكَلَٰلَةِۚ إِنِ
ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَهُۥٓ أُخۡتٞ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَۚ
وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٞۚ فَإِن كَانَتَا ٱثۡنَتَيۡنِ
فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةٗ رِّجَالٗا
وَنِسَآءٗ فَلِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۗ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ
أَن تَضِلُّواْۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ١٧٦
“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang
kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah
(yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan
mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari
harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh
harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara
perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari)
saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki
sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini)
kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS.
An-Nisa[4]: 176)
Ayat yang turun terakhir menurut hadits Barra’ ini adalah
berhubungan dengan masalah warisan.
5. Pendapat yang kelima at-Taubah ayat 128
لَقَدۡ
جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ
عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
١٢٨
“Sungguh telah datang kepadamu seorang
Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(QS. At-Taubah[9]: 128)
Dalam al-Mustadrak disebutkan, dari Ubai bin Ka’b yang
mengatakan: “Ayat terakhir kali diturunkan: Sungguh, telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri…”. Mungkin yang dimaksud dalam pendapat
ini adalah ayat terakhir yang diturunkan dari surah at-Taubah. Dan mungkin saja
surah ini adalah surah yang terakhir kali diturunkan.
6. Pendapat yang keenam al-Maidah ayat 3
Pendapat lain pula mengatakan bahwasanya ayat al-Qur’an yang
terakhir diturunkan ialah firman Allah SWT. Dalam surah al-Maidah ayat 3 :
…..ٱلۡيَوۡمَ
أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ …….٣
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu.”
Menurut Ash-Shabuni pendapat ini merupakan pendapat yang tidak sahih (benar), karena ayat
tersebut diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.
Pada waktu beliau wukuf di Arafah, yang setelah itu beliau masih sempat hidup
selama 81 hari, dan sebelum beliau wafat turunlah sebuah ayat dari surah
al-Baqarah seperti pendapat yang kedua di atas.
BAB II
KESIMPULAN
Demikianlah makalah ini dibuat.
Beberapa hal yang menjadi catatan penting dalam makalah ini adalah yang turun
pertama kali menurut pendapat ulama : al-Alaq ayat 1-5, al-Muddatstsir ayat
1-5, al-Fatihah, Bissmillahirrahmanirrahim. Dan menurut para ahli hadits
yang paling sahih yakni al-Alaq ayat 1-5.
Dan juga menurut pendapat ulama
mengenai wahyu yang terakhir turun adalah: al-Baqarah ayat 278, 281, 282 dan
an- Nisa ayat 176, at-Taubah 128, al-maidah ayat 3. Menurut Al-Qadhi Abu Bakar
Al- Baqilani ketika mengomentari berbagai riwayat mengenai ayat yang terakhir
kali diturunkan menegaskan bahwa tidak satupun dari pendapat-pendapat ini yang
disandarkan kepada Rasulullah ﷺ, masing-masing boleh
jadi berkata sesuai dengan hasil ijtihadnya atau dugaan saja.
DAFTAR PUSTAKA
Al Abyadi, Ibrahim. Sejarah Al Qur’an. Jakarta: Rineka
Cipta. 1992
Al-Qattan, Manna Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor:
Pustaka Litera AntarNusa, 2016
Anwar, Abu. Ulumul Quran Sebuah pengantar. Jakarta: Amzah.
2017
As Suyuthi, Imam Jalaluddin. Samudera Ulumul Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu Surabaya.
2006
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 1998.
Aziz, Moh. Ali. Mengenal Tuntas Al-Qur’an. Surabaya:
Imtiyaz. 2018
Dh, Ahmad Zuhdi, dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2017.
Muhammad Yasir, Ade Jamaruddin. Studi Al-Quran. Riau: Asa
Riau. 2016
Musyafa’ah, Sauqiyah, dkk. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2013.
Rosidin, Mukarom Faisal, dkk. Buku
Siswa Al-Qur’an Hadis Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013 untuk MA Kelas X.
Jakarta: Kementerian Agama. 2014.
Sumuranje, L. Nihwan. Al-Qur’an Bertutur. Solo: Tiga Serangkai. 2019.
Syafaq, Hammis, dkk. Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2017.
Tim Penyusun MKD. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UINSA Press.
2013

No comments:
Post a Comment